DPRa PKS Serdang - Rasulullah
saw. dan generasi awal umat ini benar-benar menyadari bahwa masyarakat paganis
ekstrim dari keturunan Quraisy –dan semua kelompok yang sejenis dengannya–
tidak akan pernah membiarkan umat Islam begitu saja memperoleh kebebasan
beragama mereka di Kota Yatsrib, setelah sebelumnya mereka diusir beramai-ramai
dari Kota Makkah dan sekitarnya. Untuk ini, umat Islam pun mempersiapkan
segalanya. Di Kota Madinah mereka berlatih agar mereka tidak lagi dilecehkan.
Selain agar orang musyrikin maupun kabilah-kabilah lainnya, sadar akan kekuatan
Islam yang selama ini tersebunyi. Inilah yang sekiranya dapat menggetarkan
mereka sehingga mereka tidak menyerang umat Islam di Kota Madinah. Lebih dari
itu, hal ini agar masyarakat Quraisy paham bahwa orang-orang Muhajirin yang
selama ini lari dari tekanan penindasan bukanlah pada posisi yang lemah dan
hina. Namun kini mereka telah berubah menjadi satu komunitas yang kuat yang
mampu menggetarkan dan patut diperhitungkan.
Latihan dan Persiapan Berkala
Rasulullah saw. segera melatih para sahabatnya dan
mengutus mereka untuk melakukan pengintaian di sekitar Kota Madinah secara
berkala. Tujuannya
adalah sebagai latihan, eksplorasi, dan persiapan peperangan. Beberapa tugas
yang pernah beliau delegasikan kepada para sahabat antara lain:
1. Pasukan yang dipimpin oleh Hamzah
bin ‘Abdul Muththalib. Mereka sebanyak 30 orang penunggang dari kalangan
Muhajirin. Mereka diutus hingga daerah Al-‘Iish di tepi laut.
2. Pasukan yang dipimpin oleh
‘Ubaidah bin Harits. Mereka sebanyak 60 orang penunggang dari kalangan
Muhajirin sampai ke daerah Raabigh.
3. Pasukan yang dipimpin oleh Sa’d
bin Abi Waqqash dengan kekuatan pengintai berjumlah 80 orang Muhajirin dan
bertugas sepanjang jalan yang menghubungkan Makkah dan Madinah.
4. Perang Wuddan. Pasukan di bawah
pimpinan Rasulullah saw. berjumlah 200 orang penunggang dan pejalan kaki
berjalan hingga daerah Wuddan. Pada peperangan ini Rasulullah saw. mengadakan
perjanjian dengan Bani Dhamrah. Salah satu tujuan peperangan ini adalah untuk
membangun sebuah aliansi dengan kabilah-kabilah yang selama ini menguasai jalur
yang menghubungkan antara Kota Makkah dan Madinah.
5. Perang ‘Usyairah. peperangan
dengan jumlah pasukan sebanyak 200 orang penunggang dan pejalan kaki di bawah
kepemimpinan Rasulullah saw. Tujuan dari peperangan ini adalah untuk
menunjukkan kekuatan kaum muslimin di hadapan orang-orang musyrikin serta
membangun kesepahaman dengan kabilah-kabilah yang terdapat di daerah jalur
perdagangan orang Quraisy di antara Kota Makkah dan Madinah.
6. Perang Buwaath. Peperangan dengan
jumlah pasukan sebanyak 200 orang penunggang dan pejalan kaki di bawah
kemimpinan Rasulullah saw. Tujuannya adalah untuk bisa sampai ke daerah Buwaath
dari sisi gunung Radhwa ke jalur perdagangan Quraisy di antara kota Makkah dan
Madinah, selain untuk menekan kegiatan perdagangan mereka.
7. Pasukan di bawah pimpinan
‘Abdullah bin Jahsy. Pengintaian berkekuatan delapan orang dari kalangan
Muhajirin. Bersama itu, ‘Abdullah membawa sepucuk surat dari Rasulullah saw.
Beliau berpesan untuk tidak membuka surat tersebut kecuali dua hari setelah
mereka melakukan perjalanan. Ketika surat itu dibuka, di dalamnya terdapat
tulisan, ”Jika engkau telah
membaca surat ini, maka teruslah berjalan hingga engkau sampai di sebuah pohon
kurma yang terletak di antara Makkah dan Thaif. Lalu perhatikan gerak-gerik
orang Quraisy dan berikan informasinya kepada kami.”[1] Abdullah
segera berangkat hingga akhirnya ia sampai di sebuah pohon kurma. Sebuah
kafilah Quraisy lewat dan langsung di serang oleh kaum muslimin. Pada
peperangan ini, orang-orang musyrikin yang tewas antara lain ‘Amr bin Hadhrami,
sementara kaum muslimin berhasil menawan dua orang dari kalangan musyrikin,
namun yang keempat berhasil melarikan diri.
8. Perang Badar Pertama. Prediksi
Rasulullah saw. dan para sahabat tentang kaum musyrikin benar-benar menjadi
sebuah kenyataan. Tak lama setelah beliau menetap di Kota Madinah, orang-orang
musyrikin di bawah pimpinan Karz bin Jabir Al-Fihry melakukan penyerangan
terhadap ladang pengembalaan hewan milik orang Madinah dan merampas beberapa ekor unta dan
kambing milik kaum muslimin. Rasulullah saw. pun segera bergerak untuk mengusir
agresor tersebut dan merebut kembali unta maupun kambing milik kaum muslimin
yang sempat mereka rampas. Pasukan perang kaum muslimin di bawah pimpinan Rasulullah
saw. ketika itu bergerak sampai ke daerah Wadi Sufyan, dekat dengan Badar.
Namun demikian mereka tidak dapat mengejar agresor musyrikin sehingga mereka
pun harus kembali tanpa ada peperangan.
Latar
Belakang Perang Badar Kubra
Perang Badar yang meletus
antar kaum muslimin dan orang-orang musyrik dipicu oleh beberapa sebab, di
antaranya:
1. Pengusiran Kaum Muslimin dari Kota Makkah Serta
Perampasan Harta Benda Mereka
Genderang perang terhadap kaum muslimin sebenarnya sudah
ditabuh oleh orang-orang musyrikin sejak Rasulullah saw. mengumandangkan
risalah dakwah yang ia bawa. Mereka menghalalkan darah kaum muslimin dan harta
benda mereka di kota Makkah, khususnya terhadap orang-orang Muhajirin. Mereka
rampas rumah dan kekayaan kaum Muhajirin. Orang islam pun melarikan diri dan
menukarnya dengan keridhoan Allah swt. Kita dapat melihat sendiri bagaimana
orang kafir Quraisy merampas dan menguasai harta benda Shuhaib sebagai imbalan
diizinkannya ia untuk berhijrah ke Madinah. Kita pun dapat menyaksikan bagaimana
mereka menduduki rumah-rumah dan peninggalan kaum muslimin yang ditinggal oleh
pemiliknya.
2. Penindasan Terhadap Umat Islam Hingga Kota Madinah
Apa yang dilakukan orang Quraisy terhadap umat Islam
ternyata tidak hanya ketika mereka berada di Kota Makkah. Di bahwa pimpinan
Kurz bin Habbab Al-Fihri, mereka memprovokasi kaum musyrikin lainnya untuk
menyerang, menteror, dan menguasai harta benda milik kaum muslimin yang ada di
Kota Madinah (sebagaimana yang terjadi pada Perang Badar Shughra). Oleh karena
itu, sudah sewajarnya apabila orang-orang musyrik menerima balasan atas semua
permusuhan dan penindasan mereka terhadap umat Islam selama ini. Mereka begitu
sadar bahwa banyak kepentingan dan hasil perdagangan mereka yang akan berpindah
ke tangan orang-orang Islam di sana, selain bahwa kini Islam telah memiliki
pasukan dan wilayah yang mampu memberikan perlawanan atas kewenang-wenangan,
menegakkan kebenaran dan menumbangkan kebatilan meskipun orang-orang yang
berhati durjana tidak menyukainya.
3. Memberi Pelajaran Kepada Quraisy dan
Mengembalikan Harta Benda Milik Umat Islam
Oleh karena itu, begitu Rasulullah saw. mendengar bahwa
kafilah dagang Quraisy yang dipimpin oleh Abu Sufyan bin Harb dan ‘Amr bin
Al-‘Ash bersama 40 orang bergerak dari Syam membawa harta orang-orang Quraisy
yang keseluruhannya mencapai seribu ekor unta, maka beliau pun segera mengajak
kaum muslimin untuk bergerak mendatanginya. Rasulullah saw. mengatakan, ”Ini
adalah perdagangan Quraisy. Maka keluarlah kalian, semoga Allah swt. akan memberikannya
kepada kalian.”[2] Mendengar
seruan ini, sebagian kaum muslimin menyambutnya sementara yang lainnya merasa
sedikit berat dengannya. Mereka menggangap bahwa ketika itu Rasulullah saw.
tidak bermaksud mengumandangkan sebuah peperangan. Karena beliau mengatakan, ”Barangsiapa yang saat ini memiliki
tunggangan, maka hendaklah ia ikut bersama kami.” Beliau
tidak menunggu sahabat yang tunggangannya tidak ada pada saat itu.
Sekilas Sejarah Perang Badar
Ibnu Ishaq berkata, ”Rasulullah saw. pergi pada beberapa
malam di bulan Ramadhan bersama sahabat-sahabatnya.” Ibnu Hisyam berkata,
”Beliau pergi pada hari Senin setelah delapan hari dari bulan Ramadhan. Beliau
mengangkat ‘Amr bin Ummi Maktum (dalam riwayat namanya adalah ‘Abdullah bin
Ummi Maktum) untuk menjadi imam di Madinah, dan mengangkat Abu Lubabah sebagai
pemimpin sementara kota Madinah.”
Jumlah pasukan kaum muslimin pada saat itu hanyalah 313
orang: 240-an orang dari kalangan Anshor, sisanya dari kalangan Muhajirin.
Mereka membawa 2 ekor kuda dan 70 ekor unta. Sementara panji kaum muslimin di
bawa oleh Mus’ab bin ‘Umair. Peristiwa Badar sendiri meletus pada hari Jumat
pagi tanggal 17 Ramadhan.[3]
Prediksi Abu Sufyan tentang Pasukan Islam
Waktu itu Abu Sufyan terkenal sebagai seorang yang begitu
ambisius dan cerdik. Ia selalu memperhitungkan segala macam kemungkinan dan resiko
yang dapat terjadi. Ia tahu benar apa yang telah dilakukan penduduk Quraisy
terhadap kaum muslimin selama ini. Ia pun begitu menyadari akan kekuatan umat
islam yang semakin hari semakin mengalami peningkatan dan perkembangan. Ia
mengorek informasi dari setiap rombongan orang yang ditemuinya sebagai bukti
kekhawatirannya atas perdagangannya berikut harta orang-orang Quraisy yang
dibawanya. Hingga akhirnya ia mendengar kabar dari beberapa orang yang
ditemuinya bahwa Nabi Muhammad telah memobilisasi sahabat-sahabatnya untuk
mencegat rombongan yang sedang membawa harta perdagangan. Mendengar hal ini, ia
pun segera berhati-hati dan mengambil jalur perjalanan yang lain seraya
mengirim utusan kepada penduduk Quraisy yang ada di Kota Makkah untuk meminta
bantuan.
Mobilisasi Suku Quraisy
Abu Sufyan menyewa Dhamdham bin ‘Amr Al-Ghifari agar
segera menemui orang-orang Quraisy dan memberitahu mereka situasi yang tengah
terjadi. Ia pun bergegas menunggangi untanya. Dengan berteriak ia berkata,
”Wahai orang-orang Quraisy! Harta kalian bersama Abu Sufyan terancam oleh
Muhammad dan sahabat-sahabatnya. Kulihat kalian tidak akan memperolehnya.
Tolonglah… tolonglah!”[4] Mendengar
berita ini, fanatisme mereka pun berkobar. Mereka begitu khawatir akan
perdagangan mereka. Dengan cepat mereka bergerak. Semuanya pergi kecuali Abu
Lahab bin ‘Abdul Muththalib. Ia mengirim Al-‘Ash bin Hisyam bin Al-Mughirah
sebagai pengganti. Orang-orang Quraisy sepakat untuk bersama-sama pergi baik
dalam keadaan susah maupun lapang. Di depan barisan mereka terdapat biduan
wanita yang bernyanyi mendendangkan hinaan dan celaan bagi umat Islam.
“Dan
(ingatlah) ketika setan memperindah perbuatan-perbuatan mereka dan membisikkan
bahwa tidak ada yang akan mengalahkan kalian pada hari ini, dan aku akan
benar-benar menjadi pelindung kalian.”
Selamatlah Kafilah Dagang Quraisy
Abu Sufyan tidak hanya berpangku tangan menanti uluran
bantuan dari penduduk Quraisy. Ia curahkan segenap kepiawaian yang ia miliki
agar mereka tidak jatuh ke tangan kaum muslimin. Semua informansi dan peristiwa
yang ada ia kumpulkan dan dianalisis hingga akhirnya ia tahu kapan pasukan
muslimin pergi menghadang kafilah dagang mereka.
Diriwayatkan bahwa Abu Sufyan bertemu dengan Majdi bin
‘Amr dan bertanya kepadanya, ”Apakah engkau berjumpa dengan seseorang?” Ia
menjawab, ”Aku tidak menjumpai seorang pun yang tidak kukenal kecuali dua orang
penunggang unta yang berhenti di bukit itu. Kemudian mereka mengambil air dan
meletakkannya di tempat air mereka lalu pergi.” Abu Sufyan mendatangi tempat
tersebut dan mengambil beberapa buah sisa kotoran hewan mereka. Lalu ia
pisahkan dan di dalamnya terdapat biji. Ia berkata, ”Demi Tuhan, ini adalah
makanan hewan penduduk Yatsrib (Madinah).” Ia
pun akhirnya tahu bahwa kedua orang tersebut tak lain adalah sahabat Nabi
Muhammad saw. dan pasukan kaum muslimin ternyata sudah begitu dekat dari
tempat.”[5] Abu Sufyan
segera kembali ke tengah kafilah sambil memukuli mukanya. Ia alihkan jalur
perjalanan dari satu tempat ke tempat yang lain, yaitu pesisir pantai demi
menghindari daerah Badar menuju ke kiri sehingga kafilah pun terselamatkan.
Sikap Keras Kepala Kaum Musyikin untuk Berperang
Pasukan musyrik Quraisy bergerak dengan penuh kesombongan
di tengah hamparan padang pasir, di antara sekian banyak kabilah Arab yang
terdapat di sepanjang jalur yang menghubungkan Kota Makkah dan Madinah diiringi
nyanyian biduan wanita. Mereka begitu bangga dengan kekuatan dan pasukan yang
ada. Mereka bermaksud hendak menyelamatkan Abu Sufyan dan kafilah dagang dari
tangan umat Islam. Namun ternyata
kafilah tersebut telah terselamatkan. Abu Sufyan sendiri yakin bahwa ia telah
berhasil menyelamatkan kafilah dagang mereka dari kepungan dan incaran umat
Islam. Ia pun mengirim pesan kepada pasukan Quraisy, ”Sesungguhnya kalian
keluar untuk melindungi perdagangan, orang-orang, dan harta benda kalian.
Mereka semuanya telah terselamatkan. Maka kembalilah!” Utusan Abu Sufyan pun
akhirnya bertemu dengan pasukan Quraisy di perjalanan. Ia sampaikan berita
selamatnya kafilah dagang mereka. Mendengar berita ini Abu Jahal berkata, ”Demi
Tuhan! Kita tidak akan kembali kecuali setelah sampai di Badar dan tinggal di
sana selama tiga hari. Kita akan memotong hewan sembelihan, memberi makan,
menuangkan khamr, dan mendengarkan lagu dari para biduan. Dan orang-orang Arab
pun akan mendengar ekspedisi dan perkumpulan kita ini sehingga mereka akan
senantiasa segan kepada kita untuk selama-lamanya.”[6]
Oleh: Tim dakwatuna.com
[1] . Tahdzib Sirah Ibnu Hisyam, Hal 145
[2] . Diriwayatkan oleh Ibnu Ishaq. Lihat kembali
Sirah Ibnu Hisyam, 1/606
[3] . Ar-Raudh al Anf ; 2/32-38
[4] . Tahdzib Sirah Ibnu Hisyam / 150
[5] . Tahdzib Sirah Ibnu Hisyam / 156
[6] . Tahdzib Sirah Ibnu Hisyam / 156








0 comments:
Post a Comment